rumahwaktu
......tempat dimana semuanya akan kembali.
Kisah Si Didi
"Teng...teng..teng...lonceng berbunyi....saatnya istirahat, anak-anak kelas satu keluar bermain..." begitu ia mulai bercerita, maka saya dan Nana yang asyik bermain akan berhenti sejenak dan mengalihkan perhatian kepadanya.
"Kata Didi....aku punya bola sebuah, ayo kita bermain bola......
Anak-anak yang laki-laki adalah, Andi, Anton, Daud, Didi, Ijak, Yohan, Wim dan Zen. Anak-anak yang perempuan adalah, Alida, Fatima, Ina, Nela, Qamaria, Syamsia dan Juriah..."
Bila ia mulai bercerita, maka kami akan menyimaknya dengan penuh perhatian, meski sebetulnya yang ia ceritakan adalah kisah-kisah lama yang sudah berkali-kali diceritakannya, bahkan bukan hanya sekedar alur atau tema cerita, setiap kata sekalipun dalam kisah itu sudah kami hafal. Tapi kami akan tetap mendengarnya dengan penuh semangat.
Ia adalah seorang pendongeng yang baik, ia mampu membawa kami masuk dan merasa dekat dengan tokoh-tokoh yang ada dalam ceritanya. Tak hanya pandai berkata-kata, tapi sinar matanya pun ikut berbicara, dengan senyum kecil ia akan menatap kami, bila melihat ekpresi kami yang melongo menunggu lanjutan cerita yang akan ia sampaikan. Terkadang ia berhenti sejenak dan menyanyikan sebuah lagu, sebelum kembali melanjutkan cerita.
Ia adalah seorang pendongen yang baik, bahkan hingga kami dewasa sekalipun semua cerita yang ia sampaikan selalu abadi dalam ingatan kami. Tidak hanya saya dan Nana, tapi juga Abang On, Uni, dan kakak Yati. Kami masih bisa menirukan bagaimana cara dia bercerita, lengkap dengan intonasi suaranya yang khas.
Belakangan, setelah saya cukup besar dan mulai mengerti banyak hal, saya baru tahu, apa-apa yang selalu dikisahkan kepada kami adalah bacaan-bacaan buku pelajaran sekolah pada masa kecilnya, untuk hal yang satu ini, ia punya ingatan yang kuat. Cerita favorit yang sering ia sampaikan adalah kisah "Si Didi", tokoh teladan dalam bacaan di sekolah dasar pada masa kecilnya. Mirip dengan tokoh Budi pada buku bacaan ketika saya duduk di sekolah dasar hehe....
*****
Desember tahun kemarin, saya tiba dirumah setelah tak pernah pulang dalam tiga tahun terakhir. Saya menemuinya di kamar, ia duduk dan tertidur dikursi yang disiapkan khusus untuknya. Ia sudah lama tak pernah lagi bercerita, bahkan tak pernah berbicara sama sekali.
Usia yang semakin tua ditambah penyakit epilepsinya yang akut telah menggerogoti kesehatannya.Penyakit itu pula yang membuat ia tak pernah menikah, dan hidup seadanya, diasuh oleh saudara-saudaranya yang lain.
Saya menyapanya, mengucapkan salam dan mencium tangannya. Meski orang-orang disekitarku menyampaikan kepadanya dengan suara yang sengaja dikeraskan, bahwa yang datang adalah saya, keponakannya yang merantau jauh di Makassar. Tapi ia tak pernah lagi bicara, matanya hanya terbuka sedikit, memandangku dengan tatapan yang kosong....
Makassar, 19 Mei 2012 - 21:00
"Mengenang Om Ade, Dahlan Ahmad Sandiah, istirahatlah dengan damai disisi-NYA, kami semua menyayangimu"
Jalan-Jalan
Kami mengajakmu jalan-jalan melihat Fort Rotterdam, salah satu jejak masa lampau yang masih dijaga dengan baik di kota ini. Benteng ini dibangun oleh raja Gowa ke 9 pada tahun 1545 yang bergelar Imanrigau Daeng Bonto Karaeng lakiung Tumpa'risi' Kallonna.
Nama asli benteng ini adalah benteng Ujung Pandang, atau benteng Panyua karena desain arsitekturnya yang bergaya eropa itu bila dilihat dari udara berbentuk seperti se-ekor penyu yang sedang merangkak.
Filosofinya, seperti se-ekor penyu yang bisa hidup di daratan maupun lautan, begitu pula kerajaan Gowa yang berjaya di darat maupun dilautan.
Kini benteng ini lebih dikenal dengan nama Fort Rotterdam, setelah kerajaan Gowa dipaksa VOC menandatangani perjanjian Bongayya. Nama Rotterdam ini diambil dari nama kota kelahiran Cornelis Speelman, yang saat itu berkuasan sebagai perwakilan VOC di Makassar.
Kami sengaja membawamu kesini putriku, setidaknya jalan-jalan kita kali ini bisa memberimu sedikit prespektif yang berbeda, dari sekedar pemandangan di pusat-pusat perbelanjaan yang kerap kita datangi setiap akhir pekan.
Kami memang lebih sering membawamu ke Mall, kau tentu lebih sering melihat deretan produk dengan berbagai godaan kemudahan belanja, mulai dari diskon, cicilan dengan bunga nol persen, hingga banyak lagi model marketing yang membuat kita lupa pada garis batas antara keinginan dan kebutuhan.
Bila kita mulai tak bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan, maka kita akan lebih sering memakai ego daripada logika. Kita manjadi budak kapitalisme dengan ideologi konsumerisme yang akut.
Hmmm...sepertinya mulai berat pembahasan kita putriku, maklumlah...ayahmu ini tiba-tiba terkenang dengan bacaan-bacaan jaman kuliah dulu, tentang kapitalisme versus sosialisme, tentang pendidikan yang membebaskan, bahkan tentang perdebatan kami di kordor kampus mengenai dimanakah sebetulnya Tuhan berada, apakah Tuhan ada di rumah-rumah ibadah atau justru di kampung-kampung kumuh, atau sebetulnya Tuhan itu ada pada tatapan mata anak-anak langit yang mengemis di perempatan lampu merah.
Entah jaman dengan logika seperti apa yang akan kau hadapi bila kau dewasa nanti, hari ini saja, sudah banyak hal-hal miris yang membuat kami cemas. Untuk mendidikmu dengan baik, kamipun harus menjadi yang lebih baik, sebab sebaik-baiknya nasihat itu bukanlah kata-kata, tetapi contoh teladan yang baik.
Kami harus menjadi yang terbaik, sebelum membimbingmu ke jalan-jalan kebaikan. Azeeta Sasmaya putriku, bunga mawar yang indah, kami menamakanmu seperti itu, sebab engkau adalah tanda cinta kami, engkau adalah bunga yang tumbuh di taman hati kami.
Makassar, 12 Mei 2012- 02.00 dini hari
Nama asli benteng ini adalah benteng Ujung Pandang, atau benteng Panyua karena desain arsitekturnya yang bergaya eropa itu bila dilihat dari udara berbentuk seperti se-ekor penyu yang sedang merangkak.
Filosofinya, seperti se-ekor penyu yang bisa hidup di daratan maupun lautan, begitu pula kerajaan Gowa yang berjaya di darat maupun dilautan.
Kini benteng ini lebih dikenal dengan nama Fort Rotterdam, setelah kerajaan Gowa dipaksa VOC menandatangani perjanjian Bongayya. Nama Rotterdam ini diambil dari nama kota kelahiran Cornelis Speelman, yang saat itu berkuasan sebagai perwakilan VOC di Makassar.
Kami sengaja membawamu kesini putriku, setidaknya jalan-jalan kita kali ini bisa memberimu sedikit prespektif yang berbeda, dari sekedar pemandangan di pusat-pusat perbelanjaan yang kerap kita datangi setiap akhir pekan.
Kami memang lebih sering membawamu ke Mall, kau tentu lebih sering melihat deretan produk dengan berbagai godaan kemudahan belanja, mulai dari diskon, cicilan dengan bunga nol persen, hingga banyak lagi model marketing yang membuat kita lupa pada garis batas antara keinginan dan kebutuhan.
Bila kita mulai tak bisa membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan, maka kita akan lebih sering memakai ego daripada logika. Kita manjadi budak kapitalisme dengan ideologi konsumerisme yang akut.
Hmmm...sepertinya mulai berat pembahasan kita putriku, maklumlah...ayahmu ini tiba-tiba terkenang dengan bacaan-bacaan jaman kuliah dulu, tentang kapitalisme versus sosialisme, tentang pendidikan yang membebaskan, bahkan tentang perdebatan kami di kordor kampus mengenai dimanakah sebetulnya Tuhan berada, apakah Tuhan ada di rumah-rumah ibadah atau justru di kampung-kampung kumuh, atau sebetulnya Tuhan itu ada pada tatapan mata anak-anak langit yang mengemis di perempatan lampu merah.
Entah jaman dengan logika seperti apa yang akan kau hadapi bila kau dewasa nanti, hari ini saja, sudah banyak hal-hal miris yang membuat kami cemas. Untuk mendidikmu dengan baik, kamipun harus menjadi yang lebih baik, sebab sebaik-baiknya nasihat itu bukanlah kata-kata, tetapi contoh teladan yang baik.
Kami harus menjadi yang terbaik, sebelum membimbingmu ke jalan-jalan kebaikan. Azeeta Sasmaya putriku, bunga mawar yang indah, kami menamakanmu seperti itu, sebab engkau adalah tanda cinta kami, engkau adalah bunga yang tumbuh di taman hati kami.
Makassar, 12 Mei 2012- 02.00 dini hari
Peternakan Si Meong
Saya tak pernah tuntas menceritakan
kepadamu kisah Si Meong dan peternakannya dari buku berbahan dasar kain
yang dibelikan bunda untukmu. Biasanya baru pada halaman pertama saya
menunjukkan gambar seekor sapi di kandang si Meong, kau dengan penuh
semangat memotong ceritaku dan mencabut tempelan gambar sapi pada
halaman buku itu.
Biasanya juga, kau akan merebut bukunya dari tanganku, lalu membolak balik buku dan mengeluarkan semua tempelan gambar binatang disetiap halaman buku, sambil mengeluar banyak ocehan bahasa balita dari mulut mungilmu, saya bisa mengerti, mungkin itu semacam caramu mengekspreasikan sesuatu yang kau sukai, atau mungkin kau sedang asyik dengan imaginasimu sendiri tentang kisah dalam buku kain " Peternakan si Meong" .
Bila seluruh gambar tempelan ternak si Meong mulai berserakan diruang tengah itu, tercecer dikamar, dibawah kursi atau tertempel di sekitar pampersmu, saya mulai mengajakmu untuk menyimak hal lain, misalnya dengan menonton televisi.
Kesukaanmu adalah siaran televisi yang menampilkan lagu lagu dengan irama menghentak, ahhaaa…kau akan berdiri sangat dekat dengan televisi, menggoyang goyang pantatmu, meliuk-liukkan jemarimu untuk menari mengikuti irama musik, dan saya pasti tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucumu.
Si Meong memiliki sejumlah ternak, ada sapi, kuda, domba, bebek dan juga ayam, hmmm....sepertinya dari semua hewan itu, baru ayam yang pernah saya perlihatkan kepadamu secara langsung :(, kau kerap berteriak-teriak kegirangan bila mereka melintas didepan rumah sambil mematuk-matuk jalanan basah. Masih banyak satwa lainnya yang perlu kau tahu, bukan hanya sekedar melihat mereka di buku atau di televisi
Kota kita ini tak punya kebun binatang putriku atau sebuah taman luas dengan berbagai habitat yang menarik. Disini lebih banyak belantara beton yang membuat gerah, kota-kota besar terkadang pelit untuk menyisakan banyak ruang bagi pepohonan dan taman. Saya sebetulnya ingin mengajakmu melihat lingkungan dengan lebih dekat, daripada sekedar mondar mandir di Mall dan sejenisnya menemani kami belanja kebutuhan bulanan.
Sebetulnya pemerintah sedang membangun sebuah taman dengan konsep menggabungkan kawasan wisata air dan kebun binatang, lokasinya tak jauh dari rumah kita putriku, hanya saja proyek itu dibangun diatas situs sejarah yang semestinya dilestarikan, bukan digadaikan demi nilai rupiah dari sebuah proyek prestisius.
Mungkin mereka pikir sejarah hanyalah potongan kenangan yang tak mesti harus selalu diingat, masa lalu adalah sesuatu yang jauh, karena satu detik yang telah berlalu tak akan pernah kembali. Saya kurang sepakat dengan itu, sejarah adalah jati diri, sejarah adalah identitas, sesuatu yang akan menjelaskan siapa kita dan dari mana kita berasal.
Tadi saya berangkat sangat pagi ke kantor, kau dan bunda masih terlelap didalam kelambu, telah saya rapikan ternak-ternak si Meong yang berserakan di ruang tengah, juga mainan lainnya yang kumasukkan ke kotak penyimpanan. Saya meletakkannya dilaci meja televisi, saya tau, sebentar lagi kau bangun, dan mulai membuka buku si Meong dan mengeluarkan ternak-ternaknya yang tertempel rapi di dalam buku itu.
Tak apa putriku, saya tak akan pernah bosan merapikannya, silahkan kau bermain sepuasnya. Nanti saya juga akan mengajarkan kepadamu, bagaimana caranya merapikan mainan dan meletakkannya di kotak penyimpanan.Oya, kau tak perlu takut bila mainanmu rusak, kau boleh berkreasi sesuka hatimu dengan semua mainan yang kami berikan untukmu, karena kami tak ingin menggangu petualangan imaginasimu dengan mainan-mainan itu.
Makassar, 15 April 2012 - 17.21
Biasanya juga, kau akan merebut bukunya dari tanganku, lalu membolak balik buku dan mengeluarkan semua tempelan gambar binatang disetiap halaman buku, sambil mengeluar banyak ocehan bahasa balita dari mulut mungilmu, saya bisa mengerti, mungkin itu semacam caramu mengekspreasikan sesuatu yang kau sukai, atau mungkin kau sedang asyik dengan imaginasimu sendiri tentang kisah dalam buku kain " Peternakan si Meong" .
Bila seluruh gambar tempelan ternak si Meong mulai berserakan diruang tengah itu, tercecer dikamar, dibawah kursi atau tertempel di sekitar pampersmu, saya mulai mengajakmu untuk menyimak hal lain, misalnya dengan menonton televisi.
Kesukaanmu adalah siaran televisi yang menampilkan lagu lagu dengan irama menghentak, ahhaaa…kau akan berdiri sangat dekat dengan televisi, menggoyang goyang pantatmu, meliuk-liukkan jemarimu untuk menari mengikuti irama musik, dan saya pasti tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucumu.
Si Meong memiliki sejumlah ternak, ada sapi, kuda, domba, bebek dan juga ayam, hmmm....sepertinya dari semua hewan itu, baru ayam yang pernah saya perlihatkan kepadamu secara langsung :(, kau kerap berteriak-teriak kegirangan bila mereka melintas didepan rumah sambil mematuk-matuk jalanan basah. Masih banyak satwa lainnya yang perlu kau tahu, bukan hanya sekedar melihat mereka di buku atau di televisi
Kota kita ini tak punya kebun binatang putriku atau sebuah taman luas dengan berbagai habitat yang menarik. Disini lebih banyak belantara beton yang membuat gerah, kota-kota besar terkadang pelit untuk menyisakan banyak ruang bagi pepohonan dan taman. Saya sebetulnya ingin mengajakmu melihat lingkungan dengan lebih dekat, daripada sekedar mondar mandir di Mall dan sejenisnya menemani kami belanja kebutuhan bulanan.
Sebetulnya pemerintah sedang membangun sebuah taman dengan konsep menggabungkan kawasan wisata air dan kebun binatang, lokasinya tak jauh dari rumah kita putriku, hanya saja proyek itu dibangun diatas situs sejarah yang semestinya dilestarikan, bukan digadaikan demi nilai rupiah dari sebuah proyek prestisius.
Mungkin mereka pikir sejarah hanyalah potongan kenangan yang tak mesti harus selalu diingat, masa lalu adalah sesuatu yang jauh, karena satu detik yang telah berlalu tak akan pernah kembali. Saya kurang sepakat dengan itu, sejarah adalah jati diri, sejarah adalah identitas, sesuatu yang akan menjelaskan siapa kita dan dari mana kita berasal.
Tadi saya berangkat sangat pagi ke kantor, kau dan bunda masih terlelap didalam kelambu, telah saya rapikan ternak-ternak si Meong yang berserakan di ruang tengah, juga mainan lainnya yang kumasukkan ke kotak penyimpanan. Saya meletakkannya dilaci meja televisi, saya tau, sebentar lagi kau bangun, dan mulai membuka buku si Meong dan mengeluarkan ternak-ternaknya yang tertempel rapi di dalam buku itu.
Tak apa putriku, saya tak akan pernah bosan merapikannya, silahkan kau bermain sepuasnya. Nanti saya juga akan mengajarkan kepadamu, bagaimana caranya merapikan mainan dan meletakkannya di kotak penyimpanan.Oya, kau tak perlu takut bila mainanmu rusak, kau boleh berkreasi sesuka hatimu dengan semua mainan yang kami berikan untukmu, karena kami tak ingin menggangu petualangan imaginasimu dengan mainan-mainan itu.
Makassar, 15 April 2012 - 17.21
Jelang Satu April
Lama membiarkan rumahwaktu ini kosong, meski sebetulnya banyak yang ingin saya ceritakan. Tentu saja dari semua cerita itu, yang paling menarik adalah bercerita tentangmu putriku. Diantara banyak hal yang paling menyenangkan adalah, ketika pulang kerja dan menemukan senyum kecil merekah dari bibir mungilmu, yang menyambutku begitu pintu rumah terbuka.
Belakangan ini kita tak pernah lagi menonton pagi bersama, selain karena cuaca yang kurang bersahabat, saya juga sedang tak begitu sehat akibat flu. Semoga flu ini tak menular kepadamu dan bunda, cukup sampai di saya. Tapi bila cuaca baik dan saya libur kerja, kita bisa kembali menonton pagi dari teras rumah, tentu sambil menunggu tukang sayur lewat. Ini juga salah satu kesempatan untuk mengalihkan sejenak perhatianmu dari bunda.
Tahukan kau, dirumah mungil ini hanya kita bertiga, saya, kau dan bunda, kita belum menemukan orang yang tepat untuk membantumu dan bunda dirumah. Karena itu terkadang saya menemukan bundamu tak makan seharian karena kau tak sekejappun melepaskan bunda dari pandanganmu. Bunda tak mau membawa serta dirimu ke dapur, karena untuk balita seusiamu, dapur masih menjadi zona yang tak aman untukmu.
Sekarang usiamu 1 tahun 2 bulan, masa dimana kau sedang lucu-lucunya.
Kata dokter spesialis tumbuh kembang yang juga temannya Eyang Putri-mu. Kau tumbuh dengan sehat, pertumbuhanmu bahkan melampaui anak-anak lain sesusiamu. Moga kau selalu sehat lahir dan batin putriku, dan tumbuh menjadi putri yang sholehah, yang taat kepada Allah dan kepada kedua orang tuanya.
Pagi ini saya sedikit tergesa berangkat ke kantor,sebelum berangkat terlebih dahulu memberikan sedikit "arahan" untukmu dan bunda, tentang jalanan mana saja yang sebaiknya kalian pilih sebagai rute yang aman bila ingin bepergian hari ini.
Makassar hari ini kembali memanas jelang rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi pada April mendatang. Siang ini diberbagai lokasi mahasiswa sudah berunjuk rasa memblokir jalan dan menyandera kendaraan untuk dijadikan panggung orasi. Saya tak ingin kau dan bunda terjebak dalam kemacetan ataupun dalam kepungan unjuk rasa yang berpotensi anarkis.
Beberapa hari lalu, unjuk rasa didepan kampus Universitas Hasanuddin menolak kenaikan harga BBM berujunga narkis, massa merusak mobil tangki Pertamina dan mobil plat merah, juga membakar sebuah mobil perusahan minuman yang melintas. Tak hanya itu, mereka juga menjarah truk pengangkut tabung elpiji, dan membagi-bagikannya pada pengguna jalan.
Sebenarnya apapun alasannya, aksi anarkis yang merugikan orang lain tentu tak bisa dibenarkan. Tapi begitulah gambaran situasi saat ini, pemerintah yang bebal dan rakyat yang frustasi makanya muncullah anarki dan vandalisme. Padahal negeri kita ini kaya raya dengan sumber daya alamnya, sayangnya kita tak pernah merdeka menentukan nasib kita sendiri, karena pemerintah kita banci, dan menghamba pada kapitalisme asing.
Kalaupun harga BBM ini naik, mungkin bagi kita dampaknya tak begitu terasa, tapi bagaimana dengan mereka yang taraf hidupnya jauh lebih rendah, kesulitannya akan semakin berlipat ganda.
Hari ini, tak hanya polisi, tapi para prajurit TNI juga sudah mulai disiagakan menjaga kota, kendaran-kendaraan lapis baja juga sudah disiapkan, dan para mahasiswa terus membakar ban,menyandera mobil dan memblokir jalan.
Mari kita berdoa untuk mereka yang sedang berada di jalanan saat ini, siapapun mereka, apakah itu mahasiswa, sopir angkot, polisi, tentara, para tukang becak, pekerja SPBU, para sopir tangki mobil Pertamina, semoga mereka semua selalu dilindungi, semoga tidak ada darah yang tumpah untuk kebijakan bodoh dari para pemimpi negeri......
Makassar, 26 Maret 2012 - 10.00
Belakangan ini kita tak pernah lagi menonton pagi bersama, selain karena cuaca yang kurang bersahabat, saya juga sedang tak begitu sehat akibat flu. Semoga flu ini tak menular kepadamu dan bunda, cukup sampai di saya. Tapi bila cuaca baik dan saya libur kerja, kita bisa kembali menonton pagi dari teras rumah, tentu sambil menunggu tukang sayur lewat. Ini juga salah satu kesempatan untuk mengalihkan sejenak perhatianmu dari bunda.
Tahukan kau, dirumah mungil ini hanya kita bertiga, saya, kau dan bunda, kita belum menemukan orang yang tepat untuk membantumu dan bunda dirumah. Karena itu terkadang saya menemukan bundamu tak makan seharian karena kau tak sekejappun melepaskan bunda dari pandanganmu. Bunda tak mau membawa serta dirimu ke dapur, karena untuk balita seusiamu, dapur masih menjadi zona yang tak aman untukmu.
Sekarang usiamu 1 tahun 2 bulan, masa dimana kau sedang lucu-lucunya.
Kata dokter spesialis tumbuh kembang yang juga temannya Eyang Putri-mu. Kau tumbuh dengan sehat, pertumbuhanmu bahkan melampaui anak-anak lain sesusiamu. Moga kau selalu sehat lahir dan batin putriku, dan tumbuh menjadi putri yang sholehah, yang taat kepada Allah dan kepada kedua orang tuanya.
Pagi ini saya sedikit tergesa berangkat ke kantor,sebelum berangkat terlebih dahulu memberikan sedikit "arahan" untukmu dan bunda, tentang jalanan mana saja yang sebaiknya kalian pilih sebagai rute yang aman bila ingin bepergian hari ini.
Makassar hari ini kembali memanas jelang rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi pada April mendatang. Siang ini diberbagai lokasi mahasiswa sudah berunjuk rasa memblokir jalan dan menyandera kendaraan untuk dijadikan panggung orasi. Saya tak ingin kau dan bunda terjebak dalam kemacetan ataupun dalam kepungan unjuk rasa yang berpotensi anarkis.
Beberapa hari lalu, unjuk rasa didepan kampus Universitas Hasanuddin menolak kenaikan harga BBM berujunga narkis, massa merusak mobil tangki Pertamina dan mobil plat merah, juga membakar sebuah mobil perusahan minuman yang melintas. Tak hanya itu, mereka juga menjarah truk pengangkut tabung elpiji, dan membagi-bagikannya pada pengguna jalan.
Sebenarnya apapun alasannya, aksi anarkis yang merugikan orang lain tentu tak bisa dibenarkan. Tapi begitulah gambaran situasi saat ini, pemerintah yang bebal dan rakyat yang frustasi makanya muncullah anarki dan vandalisme. Padahal negeri kita ini kaya raya dengan sumber daya alamnya, sayangnya kita tak pernah merdeka menentukan nasib kita sendiri, karena pemerintah kita banci, dan menghamba pada kapitalisme asing.
Kalaupun harga BBM ini naik, mungkin bagi kita dampaknya tak begitu terasa, tapi bagaimana dengan mereka yang taraf hidupnya jauh lebih rendah, kesulitannya akan semakin berlipat ganda.
Hari ini, tak hanya polisi, tapi para prajurit TNI juga sudah mulai disiagakan menjaga kota, kendaran-kendaraan lapis baja juga sudah disiapkan, dan para mahasiswa terus membakar ban,menyandera mobil dan memblokir jalan.
Mari kita berdoa untuk mereka yang sedang berada di jalanan saat ini, siapapun mereka, apakah itu mahasiswa, sopir angkot, polisi, tentara, para tukang becak, pekerja SPBU, para sopir tangki mobil Pertamina, semoga mereka semua selalu dilindungi, semoga tidak ada darah yang tumpah untuk kebijakan bodoh dari para pemimpi negeri......
Makassar, 26 Maret 2012 - 10.00
Subscribe to:
Posts (Atom)

